Minggu, 05 Juni 2011

PENERAPAN ANDRAGOGI PADA ORANG DEWASA DALAM PELATIHAN

PROGRAM DAN DESIGN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
A.    JUDUL
Pembelajaran Bahasa Cina dengan Prinsip Andragogi pada Pelayan di Taiyang Restaurant. Restaurant ini terletak di daerah kota Mojokerto yang beralamat di Jl. HOS Cokroaminoto 34 Mojokerto.
1. Pengertian Andragogi
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: “aner”, dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah “pedagogi”, yang ditarik dari kata “paid” artinya anak dan “agogus” artinya membimbing atau memimpin. Dengan demikian secara harfiah “pedagogi” berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Dengan kata lain pendekatan Andragogi  mempunyai ruang lingkup, tujuan, sasaran, jenis dan isi program serta strategi yang berbeda dengan pendekatan anak-anak (pedagogi).
Pendekatan Andragogi menitik beratkan pada belajar berkelanjutan sepanjang hayat untuk mempelajari keterampilan yang dapat digunakan dalam mengarahkan diri sendiri.  Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru / tutoir mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).
Perlunya penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Sebaliknya, pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan, masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar.
Asumsi-Asumsi Pokok Teori Pembelajaran  Andragogi
Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
a.   Konsep Diri: Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
b.    Peranan Pengalaman: Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan “Experiential Learning Cycle” (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
c.   Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
d.  Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
2. Pengertian Bahasa Cina
            Bahasa Cina (Cina Tradisional: 漢語, Cina Ringkas: 汉语, pinyin: Hànyǔ; Cina Tradisional: 華語, Cina Ringkas: 华语, pinyin: Huáyǔ; atau 中文, pinyin: Zhōngwén) membentuk sebahagian keluarga bahasa Sino-Tibet. Kira-kira satu per lima daripada semua manusia di bumi bertutur dalam suatu bentuk bahasa Cina sebagai bahasa ibunda, menjadikannya bahasa yang paling ramai orang di dunia yang menuturnya sebagai bahasa ibunda.
Secara amnya, kesemua variasi bahasa Cina bersifat sebutan ton dan analitik. Namun, bahasa ini ada keistimewaannya kerana kepelbagaian dalamannya yang meluas. Variasi mengikut kawasan di antara variasi atau dialek yang berbeza boleh dibandingkan kepada keluarga bahasa Romance (keturunan bahasa Latin); kebanyakan variasi bahasa Cina ditutur cukup banyak kelainannya sehingga tidak dapat saling difahami antara satu sama lain. Terdapat di antara 6-12 kumpulan kawasan yang utama (bergantung kepada skema klasifikasi), yang mana bahasa Mandarin, Wu (Shanghai) dan Kantonis paling ramai penuturnya. Pengenalpastian variasi-variasi bahasa Cina ini sebagai "bahasa" atau "dialek" menimbulkan pertikaian.
Sebutan Bahasa Cina yang baku berasaskan dialek Beijing, daripada golongan Bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin Baku merupakan bahasa rasmi Republik Rakyat China dan Republik China di Taiwan, serta salah satu bahasa rasmi Singapura (bersama bahasa Inggeris, Melayu, dan Tamil). Bahasa Cina—secara tepatnya, bahasa Mandarin baku—merupakan salah satu daripada enam bahasa rasmi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (bersama bahasa Inggeris, Arab, Perancis, Rusia, dan Sepanyol). Bahasa Cina yang ditutur dalam bentuk dialek Kantonis pula merupakan bahasa rasmi Hong Kong (bersama bahasa Inggeris) dan Macau (bersama bahasa Portugal).

B.     FOKUS KEGIATAN
Fokus kegiatan ini adalah pada penerapan prinsip andragogi. Untuk membantu meningkatkan kualitas para pelayan Restaurant dalam menguasi bahasa untuk berkomunikasi dengan peklanggan atau pembeli. Karena melalui penguasaan bahasa maka komunikasi yang timbul dapat berlangsung secara efektif.  Dengan demikian mampu meningkatkan pelanggan di restaurant tersebut.

C.    TUJUAN PROGRAM
Program ini mempunyai tujuan kegiatan sebagai berikut :
a. Diharapkan para pelayan restaurant mampu lebih baik meningkatkan pelayanan.
b. Diharapkan memberikan pelayanan yang lebih baik melalui komunikasi.
c. Diharapkan bisa menjalin keakraban pada pelanggan.

D.    RANCANGAN DESIGN
Rancangan kegiatan program didini dikemas dalam bentuk Rencana Perencanaan Pembelajaran secara sederhana.Seoranng pembelajar mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membuat para pebelajar sukses dan berhasil.Meskipun terkadang banyak hambatan yang dihadapinya.Dalam kegiatan belajar mengajar seorang tutor tidak hanya dituntut untuk menuguasai materi kegiatan yang akan diberikan kepada peserta didiknya,tetapi lebih untuk mengkondisikan proses belajar mengajarnya.
Dalam proses kegiatan nelajar mengajar di Restaurant ini tutor mengajarkan bahasa Cina untuk karyawan.Kegiatan ini dilaksanakan satu minggu 7 kali dengan 10 pertemuan, 5 pertemuan untuk memberikan materi, 2 peretemuan untuk review, 1 pertemuan untuk tes tulis dan tulisan.
Perincian Kegiatan Sebagai Berikut
Pertemuan Ke
Tanggal
Materi
1
2
3

4

5
6

7
8
9
10
5 Mei 2009
6 Mei 2009
7 Mei 2009

8 Mei 2009

9 Mei 2009
12 Mei 2009

13 Mei 2009
14 Mei 2009
15 Mei 2009
16 Mei 2009

Pengenalan huruf Mandarin
Mempelajari kata dan kalimat sapaan
Membaca dialog sederhana tentang menjamu tamu restauran.
Mengenal kosa kata sayuran,seafod,daging yang terdapat di Restaurant
Review (Mengulang kembali materi )
Mengenal kosa kata peralatan makan dan mempelajari bilangan
Mengenal kosakata waktu
Review (Mengulang kembali materi)
Tes Tulis
Tes Lisan

Proses kegiatan belajar mengajar dilakukan di ruang istirahat.Tepatnya di depan ruang VIP.Ruangan ini dipilih karena ruangan ini sangat strategis dan sangat tepat dan lebih efisien untuk digunakan tempat belajar mengajar.
Proses belajar mengajar ini dilakukan di Taiyang Restaurant yang diikuti oleh 9 peserta yang semuanya adalah waiters,dan waiterss.Dari 9 peserta dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing dipegang oleh 3 tutor yang berasal dari dosen perguruan tinggi.

E.     KEGIATAN
                               I.  Kegiatan 1
a. Standar Kompetensi
            Merespon kosakata atau kalimat yang diberikan tutor dan dapat mengartikan secara tepat.
b. Kompetensi Dasar
1. Mendengar dan memahami makna dari wacana tertulis berbentuk kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
2.  Mengidentifikasi bunyi dalam kata,kalimat dan mampu membedakannya.
c. Indikator
a)      Menafsirkan makana dari kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
b)      Mengidentifikasi nada yang berbeda dari kosakata yang sama.
c)      Mengucapkan kosakata,kalimat dan dialog.



d. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Awal
a)      Tutor memberi salam
b)      Absensi

2. Kegiatan Inti
a)      Tutor memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Cina sederhana yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia.
b)      Tutor memberi penjelasan mengenai pembelajaran yang dilakukan.
c)      Tutor menjelaskan pengertian dan nada serta cata pelafalkannya.
d)     Tutor mrminta seluruh peserta didik mengikuti cara melafalkannya dengan tepat.
e)      Tutor mrminta satu persatu untuk melafalkan huruf dengan tepat.
3. Penutup
Tutor bertanya dan membuat kesepakatan dengan peserta didik mengenai materi yang akan di ajrakan pertemuan selanjutnya.
e. Sumber Belajar
     Materi pembelajaran dari buku review bahasa Cina mandarin.
f. Media
White board,spidol,buku catatan

                            II.  Kegiatan II
a. Standar Kompetensi
            Merespon kosakata atau kalimat yang diberikan tutor dan dapat mengartikan secara tepat.
b. Kompetensi Dasar
1. Mendengar dan memahami makna dari wacana tertulis berbentuk kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
2.  Mengidentifikasi bunyi dalam kata,kalimat dan mampu membedakannya.
c. Indikator
a)      Menafsirkan makana dari kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
b)      Mengidentifikasi nada yang berbeda dari kosakata yang sama.
c)      Mengucapkan kosakata,kalimat dan dialog.
d. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Awal
a)      Tutor memberi salam dan absensi
b)      Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi pertemuan sebelumnya.
c)      Mendiskusikan pertanyaan dari siswa pada pertemuan sebelumnya.
2. Kegiatan Inti
a)      Peserta didik menyebutkan macam-mcam kosakata dan kalimat sapaan dalam bahasa Indonesia
b)      Tutor menerjemahkan kata dalam kaliamat sapaan bahasa cina.
c)      Tutor mrminta seluruh peserta didik mengikuti cara melafalkan kalimat sapaan dengan baik dan nada benar.
d)     Tutor mrminta satu persatu untuk melafalkan kalimat sapaan dengan tepat.

3. Penutup
Tutor bertanya dan membuat kesepakatan dengan peserta didik mengenai materi yang akan di ajarkan pertemuan selanjutnya.
e. Sumber Belajar
     Materi pembelajaran dari buku review bahasa Cina mandarin.
f. Media
White board,spidol,buku catatan

                         III.  Kegiatn III
a. Standar Kompetensi
Melafalkan kosakata,kalimat dan dialog sederhana dengan menggunakan nada dan pelafalan yang tepat..
b. Kompetensi Dasar
1. Mendengar dan memahami makna dari wacana tertulis berbentuk kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
2.  Mengidentifikasi bunyi dalam kata,kalimat dan mampu membedakannya.
c. Indikator
a)      Menafsirkan makana dari kosakata,kalimat dan dialog sederhana.
b)      Mengidentifikasi nada yang berbeda dari kosakata yang sama.
c)      Mengucapkan kosa kata,kalimat dan dialog.

d. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Awal
a)      Tutor memberi salam
b)      Absensi
2. Kegiatan Inti
a)      Tutor memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Cina sederhana yang kemudian di terjemahkan dalam bahasa Indonesia.
b)      Tutor memberi penjelasan mengenai pembelajaran yang dilakukan.
c)      Tutor menjelaskan pengertian dan nada serta cata pelafalkannya.
d)     Tutor mrminta seluruh peserta didik mengikuti cara melafalkannya dengan tepat.
e)      Tutor mrminta satu persatu untuk melafalkan huruf dengan tepat.
3. Penutup
Tutor bertanya dan membuat kesepakatan dengan peserta didik mengenai materi yang akan di ajarakan pertemuan selanjutnya.
e. Sumber Belajar
     Materi pembelajaran dari buku review bahasa Cina mandarin.
f. Media
White board,spidol,buku catatan

F.     EFEK (Pendukung dan Penghambat)
a. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan,saya menemukan beberapa hambatan yaitu :
1. Waktu pembelajaran yang kurang tepat
            Kurang tepatnya waktu yang disediakan oleh pihak Restaurant untuk kegiatan pembelajaran. Karena kegiatan dimulai pada saat kondisi fisik dari para pelayan mulali menurun.Pembelajaran ini dilakukan pada saat setelah merekan lelah bekerja seharian.Kondisi peserta seperti ini mengakibatkan mereka kurang makasimal dalam mengikuti pembelajaran.

2. Fasilitas penunjang dalam proses pembelajaran.
            Kurangnya fasilitas penunjang yang disedikan restaurant,seperti halnya Proyektor dan layar LCD.Dua benda ini sebenarnya sangatlah membantu dalam proses pembelajaran,hal ini dikarenakan tutor saat melakukan pembelajaran menggunakan laptop.

b. Dari beberapa hambatan yang telah dijelasakan maka saya dapat memberikan solusi:
1. Waktu pembelajaran yang kurang tepat.
            Solusi dari permasalahan ini adalah dengan tetap memberikan motivasi kepada pelayan yang menjadi peserta dalm pembelaaran dan selalau memperhatikan kondisi mereka serta memberikan suatu sistim pembelajaran yang tidak monoton dan cenderung membosankan.
2. Fasilitas penunjang dalam proses pembelajaran
            Solusi dalam masalah ini tentang kurangnya fasilitas penunjang pembelajaran yang disediakan oleh pihak restaurant berupa proyektor dan layar LCD dengan cara,setipa pembelajaran berlangsung tutor memberikan sebuah modul pembelajaran yang sudah dicopy sejumlah peserta,hal ini dilakukan supaya dapat memudahakan peserta didik dalam mengikuti materi yanh sedang di ajarkan.

G.    EVALUASI
Karyawan dari restaurant yang menjadi peserta dalam pembelajaran bahasa Cina adalah waiterss.Mereka di ikut sertakan dalam proses pembelajaran ini karena merekalah yang berkomunikasi secara langsung dengan para tamu atau pelanggan.
Dalam hal ini,saya mencoba menerapkan prinsip andragogi dalam proses pembelajaran bahasa Cina di Taiyang Restaurant.Andragogi se\ndiri berarti seni dalam pendidikan orang dewasa.Sistim andragogi ini digunakan karena pada pebelajar adalah orang dewasa yang pada umumnya usia mereka 18-25 tahun.Dalam penerapan sistim pendekatan ini dapat dijadikan salah satu alternatif prinsip pembelajaran.


Daftar hasil evaluasi diperoleh dari Taiyang Restaurant sebagai berikut :
No
Nama
Standar Nilai
Tes Tulis
Tes Lisan
Nilai Akhir
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Titi Kamal
Luna Maya
Raffi  Ahmad
Ciko Jerico
Julia Peres
Dewi Persik
Bondan Parkoso
Anjasmara
Syahrini
7.0
7.0
7.0
7.0
7.0
7.0
7.0
7.0
7.0
7.4
7.2
7.9
8.4
6.7
7.5
8.7
8.2
8.3
8.4
8.3
8.9
9.0
7.5
8.6
8.1
7.2
8.9
79.0
77.5
84.0
87.0
71.0
80.5
84.0
77.0
86.0
Rata-rata
80.6

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata pelayan restaurant mampu belar Bahasa Bahasa China dengan baik dan benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar